![]() |
| Foto: Airbus |
Meskipun demikian, kami memperkirakan turunnya yield ini dalam jangka pendek karena perusahaan menawarkan harga promo untuk meningkatkan kepercayaan perjalanan udara dan mempertahankan load factor di angka 80 persen,” ujar HLIB. HLIB mengatakan, AirAsia diuntungkan oleh turunnya harga bahan bakar, apalagi bahan bakar merupakan komponen biaya operasional terbesar bagi AirAsia yang mencapai 60-63 persen dari total biaya operasional.
AirAsia telah melakukan lindung nilai (hedging) 50 persen bahan bakar yang diperlukan untuk tahun 2015 dengan harga US$ 88 per barel, sedangkan 50 persen sisanya tergantung dari harga pasaran yang sekarang ini di angka US$ 60-65 per barel. Lebih lanjut, perusahaan riset ini mengatakan bahwa biaya kompensasi dan perolehan kembali pesawat akibat kecelakaan penerbangan anak perusahaan, Indonesia AirAsia, tidak akan berimbas secara material kepada AirAsia karena semuanya sudah ditanggung oleh perusahaan asuransi.
Melihat kondisi ini, HLIB merekomendasikan investor untuk membeli saham AirAsia dengan target harga RM 3,3 atau naik dari sebelumnya RM 2,64.
Sumber : indo-aviation

Tidak ada komentar:
Posting Komentar