Kembali Ke TIKET AYA
Untuk info Channel BB bisa Join di PIN BBM C002774EC

Rabu, 14 Januari 2015

Rangkuman Berita Evakuasi Hari Ke XVII Airasia QZ 8501 13 Januari 2015

Selasa, 13/01/2015 05:18 WIB
Pemotongan Ekor AirAsia QZ8501 Dilanjutkan Hari Ini

Pangkalan Bun, - Ekor Pesawat AirAsia QZ8501 akan kembali dipotong hari ini setelah lagi-lagi gagal dimasukkan ke gudang Pelabuhan Panglima Utar Kumai, Kotawaringin Barat.

Pemotongan akan dilanjutkan agar serpihan pesawat nahas itu bisa disimpan di dalam gudang pelabuhan. Bagian ekor pesawat AirAsia yang akan dipotong hari ini, Selasa (13/1/2015), hanya tinggal bagian siripnya.

Ekor tersebut sudah berhasil dipotong beberapa bagian pada Senin (12/1) dan telah dimasukkan ke dalam gudang yang berada di dekat dermaga. "Sementara seperti ini, besok pagi upaya kembali dilanjutkan," ujar Investigator KNKT Ony Soeryo Wibowo yang bertugas sebagai koordinator lapangan, Senin (12/1) di Pelabuhan Panglima Utar Kumai.

Pemotongan sudah berhasil memasukkan setengah bagian ekor. Ada beberapa serpihan pesawat jenis Airbus 320 itu selain ekor yang juga dimasukkan ke dalam gudang Pelabuhan. Seperti sejumlah bagian pesawat, tempat penyimpanan logistik, dan serpihan kulit. Pada proses pemotongan pertama, ekor pesawat yang berhasil dievakuasi oleh tim penyelam TNI AL itu justru terlihat semakin rusak.

Pasalnya saat proses pemindahan ekor dari Kapal Crest Onyx menuju dermaga Pelabuhan dan pada saat pemotongan, banyak bagian dari ekor yang terinjak-injak, terseret, dan bahkan pecah. "Kami sudah mempertimbangkan dampak pada ekor. Maka itu kami memfoto dulu (sebelum dipindahkan dan dipotong) sehingga nanti ketahuan kerusakan sebelum dan sesudah pemindahan.

Sebelum dievakuasi dari laut juga sudah difoto," kata Ony. KNKT justru merasa lebih khawatir terjadi korosi terhadap serpihan ini karena air laut merusak jejak-jejak perjalanan pesawat karena sudah hampir 2 minggu QZ8501 berada di dasar laut. Saat proses pemindahan ekor dari kapal dan saat pemotongan, 4 advicer dari Airbus yang merupakan pabrikan AirAsia turut melakukan pengecekan dan dokumentasi.

Ekor pesawat AirAsia terpaksa dipotong karena truk pengangkut tidak bisa memuat bagian pesawat tersebut karena terlalu besar. Satu tukang las beserta 2 asistennya pun memotong-motongnya supaya ukurannya menjadi benar-benar kecil dan bisa dimasukkan ke dalam gudang. Setelah usaha pemotongan pertama dilakukan, ternyata ekor yang hanya bersisa siripnya tetap tidak bisa masuk ke dalam gudang. Permasalahan ada pada pintu gudang yang terlalu kecil dan pendek. Sirip ekor QZ8501 saat ini berukuran tinggi 3,5 meter dengan kebar 5 meter.

Bagian yang tersisa ini pun lantas diletakkan di samping kiri gudang dan ditutup dengan terpal biru. Pagi ini direncanakan pemotongan akan kembali dilakukan. Ada kisah mengharukan dibalik pencarian & evakuasi korban pesawat Air Asia QZ 8501di Reportase Sore hari ini. Saksikan program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB



Selasa, 13/01/2015 11:29 WIB
Ekor AirAsia Ditemukan Basarnas: Main Body Ditemukan 1,7 Mil Laut dari Lokasi Ekor QZ8501
Pangkalan Bun - Basarnas menyatakan telah menemukan main body Pesawat AirAsia QZ8501. Diprediksi di badan pesawat ini masih banyak jenazah korban yang terperangkap di dalamnya. "Main body dari (lokasi penemuan) ekor pesawat arah timur lautnya. Sekitar 1,7 mil laut," ungkap Direktur Operasional Basarnas Marsma SB Supriyadi di posko gabungan di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalteng, Selasa (13/1/2015).

Posisi main body ini disebut Supriyadi tidak berada di dekat penemuan sayap yang menindih Cockpit Voice Recorder (CVR). Rencananya tim SAR gabungan akan mengangkat main body ini dengan lifting bag sama seperti pada saat tim mengevakuasi ekor pesawat. "Nggak dekat sayap (posisi main body pesawat), agak ke depan. Sekarang ada kapal Jadayat yang di lokasi main body. (Pengangkatan) kira-kira sama dengan ekor karena alat itu, lifting bag, yang sudah ada di lapangan. Mungin ada beberapa tambahan balon yang kita coba mainkan di dalam air.

Dia bisa angkat seluruh main bodynya," kata Supriyadi. Basarnas pun juga akan mengantisipasi dengan menambah kekuatan. Kapal tongkang sudah disiapkan di Pelabuhan Panglima Utar Kumai dan bisa segera merapat bila dibutuhkan. "Kapal tongkang sudah kita siapkan di Pelabuhan Kumai. Kalau diperlukan nanti kita rapatkan ke sana untuk membantu angkat seluruh serpihan main body, termasuk wing (sayap) pesawat," tutur Perwira Tinggi Bintang 1 itu.

Pengangkatan main body ini menjadi penting karena Basarnas memprediksi masih ada sekitar 50 persen jenazah QZ8501 atau kira-kira 60 korban yang masih terperangkap di dalamnya. Tim penyelam pun akan diturunkan untuk mengangkat badan pesawat. "Nanti kita siapkan penyelam untuk bisa angkat. Syukur kalau umpamanya (jenazah) bisa kita angkat dengan main body sekalian. Apabila ada korban yang tidak sempurna, bisa kita cari dalam ruang kabinnya," jelas Supriyadi.



Selasa, 13/01/2015 12:54 WIB
Ekor AirAsia Ditemukan 2 Spesialis dan 3 Analis Prancis Bantu KNKT Olah Data Blackbox QZ8501

Jakarta - Bureau d'Enquetes et d'Analyses (BEA) mengirimkan 2 spesialis dan 3 analis untuk membantu Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengolah data blackbox QZ8501. BEA adalah KNKT-nya Prancis. "Iya, spesialis pembuka Flight Data Record (FDR) ada 2 orang, nanti analis ada 3 orang.

Mereka dari BEA, KNKT-nya Prancis," kata investigator KNKT, Santoso Sayogo di kantornya, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Selasa (12/1/2015). Kehadiran mereka berdasarkan regulasi dari International Civil Aviation Organization (ICAO) yang mengharuskan kecelakaan pesawat melibatkan negara asal pabrik pesawat dan ICAO sendiri.

Dalam hal ini, Prancis mengirimkan BEA dan jika diperlukan maka tenaga ahli dari Airbus bisa datang kapan saja. "Kalau perlu, mereka bisa menggunakan advisor-nya Airbus. Itu ada protokol penyelidikan kecelakaan penerbangan secara internasional," ujar Santoso. "KNKT mengirim notifikasi ke Prancis dan ICAO bahwa ada pesawat kecelakaan. Kita undang mereka dan mereka memberikan nama," tambahnya. ‎Dalam proses penyelidikan penyebab kecelakaan, KNKT wajib mengeluarkan laporan awal terkait kecelakaan yang dialami QZ8501. Bentuk laporan itu hanya berupa data penerbangan QZ8501, belum ada analisis terkait penyebab.

 "Kalau kejadiannya 28 Desember, 30 hari setelah itu, KNKT diwajibkan mengeluarkan pre-elementary report. Itu kita akan report ke publik dan ICAO faktual informasi yang ada dalam kejadian ini tanpa analisis," ucap Santoso. Sementara untuk laporan penuh, KNKT tak memiliki batas waktu. Namun, menurut Santoso, laporan final sebuah kecelakaan pesawat tidak pernah dikeluarkan KNKT lebih dari satu tahun. "Analisanya kita kerjakan dan sebelum 1 tahun kita harapkan sudah buat final report.

Kalau dalam 1 tahun belum bisa, kita harus sampaikan ke ICAO kalau ada kendala," ujar Santoso. "Final report KNKT akan dikirimkan ke pihak terkait seperti Prancis, airline, dan pemerintah Indonesia‎. Kita berikan waktu 60 hari untuk merespon laporan KNKT. Kalau bisa diterima, kita akan ubah sedikit final report itu. Kalau tidak bisa diterima, kita tidak ubah tapi ada lampiran surat keberatan, sehingga publik tahu," tutup Santoso.



Selasa, 13/01/2015 16:35 WIB
 Tragedi AirAsia Selain CVR, Kabel hingga Botol Parfum Juga Diangkat ke KRI Banda Aceh  
Selat Karimata - Selain Cockpit Voice Recorder (CVR) yang diangkat ke KRI Banda Aceh, sejumlah puing-puing pesawat AirAsia QZ8501 juga dibawa. Dari banyak benda itu terdapat satu botol parfum yang masih tercium harumnya. Beberapa benda itu diangkat pada Selasa (13/1/2015) pagi. Jenis benda yang diangkat antara lain pipa besi, kabel-kabel, penutup jendela, kotak seperti CPU, tali kargo warna biru, dan serpihan lainnya. Ada satu botol parfum warna biru yang isinya masih cukup banyak di antara puing-puing.

Ketika dicium, harumnya masih sangat melekat. Saat ini benda-benda tersebut masih berada di hangar heli KRI Banda Aceh. KNKT dan TNI tengah memberikan keterangan di geladak KRI Banda Aceh. Di kesempatan terpisah, Direktur Operasi Basarnas Marsma SB Supriadi mengatakan CVR merupakan bagian dari kotak hitam dan akan dibawa ke Pangkalan Bun, Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah. "Yang sudah diangkat adalah CVR, dan sekarang ada di KRI Banda Aceh. Kondisi masih utuh dalam keadaan baik, nanti akan diserahkan ke KNKT," jelas Supriadi kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari, ketika dihubungi melalui telepon.


Selasa, 13/01/2015 15:52 WIB
2 Jenazah Teridentifikasi Lagi, Atas Nama Oscar de Sano dan Yuni Astuti
Surabaya - Meski mulai mengalami kendala identifikasi karena buruknya kondisi jenazah tidak membuat tim DVI dalam dan luar negeri putus asa. 2 Jenazah kembali teridentifikasi berkat data DNA yang ditemukan kecocokan antara korban dan keluarga. "Ahamdulillah hari ini kita bisa mengidentifikasi 2 korban sehingga total yang teridentifikasi 36 jenazah," kata Kabid Dokkes Polda Jatim yang juga Ketua Tim DVI Jatim dan Regional Tengah, Kombes Pol dr Budiyono di Posko Crisis Center Polda Jatim, Jl A Yani Surabaya, Selasa (13/1/2015).

Dua jenazah yang teridentifikasi berkat data DNA dan gigi yang dicocokkan antara korban dengan keluarga. Jenazah yang teridentifikasi adalah jenazah dengan label B024 yang teridentifikasi dengan metode primer yang dicocokan DNA dengan pembanding ayah dan ibu korban. "Dari data gigi ada kesamaan signifikan hasil pemeriksaan rontgen dan pemeriksaan gigi jenazah juga matching ditambah diperkuat pemeriksaan skunder pemeriksaan antropologi didapatkan jenis kelamin dan tinggi badan maka tidak terbantahkan teridentifikasi sebagai Oscar De Sano (27) dan sesuai data imigrasi beralamat warga Jakarta," ungkap Budiyono.

Sedangkan jenazah kedua yang teridentifikasi adalah jenazah dengan label B039 yang teridentifikasi berdasarkan metode identifikasi primer terjadi kecocokan DNA dengan dua anak kandung dari korban. "Diperkuat dengan properti sesuai gambar CCTV dan juga anting yang masih melekat sama dengan informasi anak kandung korban. Maka tidak terbantahkan, jenazah dengan label B039 adalah Yuni Astuti (40) perempuan warga Blitar," pungkas dia.



Selasa, 13/01/2015 16:35 WIB
Tragedi AirAsia Selain CVR, Kabel hingga Botol Parfum Juga Diangkat ke KRI Banda Aceh Selat
Karimata - Selain Cockpit Voice Recorder (CVR) yang diangkat ke KRI Banda Aceh, sejumlah puing-puing pesawat AirAsia QZ8501 juga dibawa. Dari banyak benda itu terdapat satu botol parfum yang masih tercium harumnya. Beberapa benda itu diangkat pada Selasa (13/1/2015) pagi. Jenis benda yang diangkat antara lain pipa besi, kabel-kabel, penutup jendela, kotak seperti CPU, tali kargo warna biru, dan serpihan lainnya.

Ada satu botol parfum warna biru yang isinya masih cukup banyak di antara puing-puing. Ketika dicium, harumnya masih sangat melekat. Saat ini benda-benda tersebut masih berada di hangar heli KRI Banda Aceh. KNKT dan TNI tengah memberikan keterangan di geladak KRI Banda Aceh. Di kesempatan terpisah, Direktur Operasi Basarnas Marsma SB Supriadi mengatakan CVR merupakan bagian dari kotak hitam dan akan dibawa ke Pangkalan Bun, Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah. "Yang sudah diangkat adalah CVR, dan sekarang ada di KRI Banda Aceh. Kondisi masih utuh dalam keadaan baik, nanti akan diserahkan ke KNKT," jelas Supriadi kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari, ketika dihubungi melalui telepon.

 Sumber : Detik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar